25 March 2011

Bersendiri Lagi........

Hurrmmm inilah bulan untuk aku menyendiri….Yup memang benar…… at the same time in my life Mimiey xde kawan yang betol2 “kawan”…Nk wat cm ner kan dh naseb Mimiey….. Korang ade hak nk tentukan sape kawan korang kan… Kat sini Mimiey xnk n ambik “port” sape salah n sape benar….biarlah Allah yang mengetahui segala2 yg tersurat n tersirat………nk cakap lelebih pun x gune…..Mimiey x pernah pakse n memakse korang nk kawan ngn Mimiey or not..terserah beb…
                Boyfriend?? Oh no no no..Mimiey x maen boyfriend skunk ni sbb Mimiey ngah study….ade mengatakan “ala ko baru ambik epjj je so ape salahnye nk berboyfriend” bior Mimiey explain na….Itu terpulang kepade hak individu itu sendiri….tp bg Mimiey la Mimiey cannot…coz Mimiey x mau mencampur adukkan masalah study n kapel….coz ini boleh membuatkan Mimiey x comfortable…. Sebab  study bermaen ngn minda manakala kapel bermaen ngn hati n minda….Mimiey  penat untuk menghadapi sume ni dah…sangat penat kengkawan… so senang erti kate laen “no kapel if u still study”.. my love only “my bunny” iaitu my books…..hikhik…. Tp kalau kengkawan nk kapel time belajo pun tak kesah asalkan kengkawn sume pandai membahagikan mase OK!!


Di waktu sendiri ini, perkare yang terbaek dilakukan adalah PHOTOSHOOT....
So inilah hasilnyew.....more practic makes perfect lagi lo.....







23 March 2011

Mangkuk Yang Cantik, Madu Dan Sehelai Rambut



Mangkuk Yang Cantik, Madu, dan Sehelai Rambut

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut.

Abu Bakar yang mendapat giliran pertama segera berkata,
“Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut.”


Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tersenyum, lalu beliau menyuruh Umar untuk mengungkapkan kata-katanya. Umar segera berkata,
“Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Rajanya lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kembali tersenyum, lalu berpaling kepada Utsman seraya mempersilakannya untuk membuat perbandingan tiga benda di hadapan mereka. Utsman berkata,
“Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Seperti semula, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kembali tersenyum kagum mendengar perumpamaan yang disebutkan para sahabatnya. Beliau pun segera mempersilakan Ali bin Abi Thalib untuk mengungkapkan kata-katanya. Ali berkata,
“Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam segera mempersilakan Fathimah untuk membuat perbandingan tiga benda di hadapan mereka. Fathimah berkata,
“Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Wanita yang mengenakan purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Setelah mendengarkan perumpamaan dari para sahabatnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam segera berkata,
“Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Beramal dengan perbuatan baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas, lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan,
“Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Allah Subhnahu WaTa’Ala pun membuat perumpamaan dengan firman-Nya dalam hadits Qudsi,
“Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”